About

Perfect World Online Spear Thingy

Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 08 November 2014

“Biografi Gesang” (Maestro Keroncong Indonesia)


Tokoh Maestro Indonesia


Gesang adalah seorang pencipta lagu Jawa dan seorang penyanyi, beliau juga merupakan seorang seniman yang telah dikenal sebagai ‘Maestro Keroncong Indonesia‘. Memiliki nama lengkap Gesang Martohartono atau lebih akrab dengan nama Gesang, terlahir dari keluarga pengusaha batik di Surakarta, 1 Oktober 1917, Solo.

Nama awal komponis lagu-lagu keroncong ini adalah Sutadi. Namun, kemudian diganti dengan nama Gesang oleh ayahnya, Martodihardjo. Sebab, ketika memakai nama Sutadi, beliau sering sakit – sakitan terutama panas demam hingga menggigil yang nyaris merenggut jiwanya. Dalam bahasa Jawa, Gesang memiliki makna hidup.
Gesang pernah menikah dan berpisah pada tahun 1962, tanpa dikaruniai seorang anak. Pada tahun 1980,  Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Rustam memberi sebuah rumah bertipe 36 di Perumnas-Palur, Karanganyar, Solo, kepadanya ketika berusia 62 tahun. Setelah 20 tahun tinggal, akhirnya Gesang memilih untuk tinggal di daerah Serengan, kota Solo, Gesang beserta keluarga dan keponakan.
Sejak kanak-kanak darah seni yang mengalir di tubuh Gesang sudah lama bergejolak dan akhirnya beliau menjatuhkan pilihan menggeluti dunia seni musik keroncong yang diakui sebagai khas Indonesia. Gesang kecil yang berada di lingkungan juragan
batik Kampung Kemlayan itu, lebih senang bersenandung dikala teman-teman sebayanya gemar bermain sepak bola.
Awalnya, Gesang adalah seorang penyanyi lagu-lagu keroncong dan sering menyatakan dirinya bukan seorang musisi, sebab  memang tidak terlalu terampil dalam memainkan alat musik. Dalam proses menciptakan sebuah lagu, Gesang mengolahnya hanya dengan bantuan seruling atau gitar akustik. Walau sederhana, namun dapat menghasilkan sebuah nada lagu yang puitis serta terkesan sederhana, polos dan bersahaja.
Gesang tergabung dalam grup musik keroncong “Marko” dan disaat usianya belum genap 20 tahun tepatnya pada 1934, lahirlah lagu yang beri judul “Si Piatu” hasil dari gubahan Gesang yang pertama. Lagu tersebut terinspirasi dari kisah hidupnya, karena sejak usia lima tahun dia telah ditinggal ibundanya Sumidah, yang diibaratkannya bagai putri rembulan.
Lagu “Si Piatu” baru dilantunkan lewat Radio untuk pertama kalinya di SRV (Solosche Radio Vereeniging), kala itu Gesang muda hidup bersama ibu tirinya, Sumirah selama 14 tahun.
Pada masa perang dunia II (1939-1945), Gesang pernah menciptakan beberapa lagu keroncong, seperti keroncong roda dunia, keroncong si piatu dan sapu tangan. Namun, lagu buah karya yang beliau ciptakan itu kurang mendapat respon dari masyarakat.
Ketika usianya menginjak 23 tahun (1940), Gesang muda sangat gagum dengan sungai Bengawan Solo ketika sedang duduk di tepinya. Kemudian sang Maestro terilhami dan menciptakan sebuah lagu yang diberi judul Bengawan Solo. Lagu yang diciptakan dalam waktu 6 bulan ini juga populer di Jepang, dan sempat digunakan dalam salah satu film layar lebar di Jepang. Lewat lagu Bengawan solo inilah, kemudian mengantarkan dirinya berkeliling Asia.
Sebagai seorang komponis lagu-lagu keroncong dengan karya bermutu tinggi, Gesang tidak tergolong sebagai pencipta yang produktif. Selama tahun 1938, Gesang tercatat hanya menghasilkan lagu ”Si Piatu“. Dalam buku biografi Gesang Mengalir Sampai Jauh yang diterbitkan Balai Pustaka (1999), selama tahun 1939 Gesang juga hanya berhasil menggubah dua lagu berjudul “Roda Dunia” dan “Suasana Desa“. Lagu “Bengawan Solo” yang legendaris itu, juga merupakan lagu satu-satunya yang dia ciptakan pada tahun 1940 dan telah diterjemahkan kedalam, setidaknya, 13 bahasa (termasuk bahasa Inggris, bahasa Tionghoa, dan bahasa Jepang).
1983, Jepang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo. Taman yang pengelolaannya didanai oleh Dana Gesang ini adalah suatu bentuk penghargaan atas jasanya terhadap perkembangan musik keroncong. Dana Gesang sendiri adalah sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang.
Gesang yang hanya menyelesaikan pendidikan kelas lima Sekolah Rakyat Ongko Loro, termasuk seniman berbakat dan fenomenal. Sang komponis besar ini, menyimpan sederet penghargaan dari berbagai lembaga. Seperti, penghargaan dari Oisca International untuk karyanya sebagai pencipta lagu “Bangawan Solo“, kemudian sejumlah penghargaan dari dalam negeri, seperti dari wali kota, gubernur, Dephankam, Deppen dan yang tertinggi penghargaan hadiah seni dari Presiden RI.
Sepanjang 87 tahun usianya, Gesang hanya mampu menghasilkan tidak lebih dari 42 karya, terdiri dari lagu-lagu berirama keroncong asli maupun langgam, termasuk sejumlah langgam Jawa. Selain lagu “Bengawan Solo“, tercatat lagu-lagu berjudul “Kr. Jembatan Merah“, “Kr. Saputangan“, “Kr. Tirtonadi“, “Kr. Sebelum Aku Mati,” maupun langgam Jawa “Caping Gunung“, “Ali-ali“, “Ngimpi“, “Pamitan” yang juga dinyanyikan mendiang Broery Pesulima dalam versi bahasa Indonesia. Semua lagu tersebut adalah lagu-lagu karya Gesang yang monumental. Gesang masih mampu merekam suaranya, saat usianya menginjak 85 tahun. Rekaman itu bertajuk Keroncong Asli Gesang yang diproduksi oleh PT Gema Nada Pertiwi (GMP) Jakarta, September 2002.
Melalui PT GMP, sudah empat kali album khusus Gesang diproduksi diantaranya pada 1982, 1988, 1999, dan 2002.
Dalam rekaman compact disk (CD) tersebut terdapat enam dari 14 lagu yang belum pernah direkam sebelumnya. Yaitu Seto Ohashi (1988), Tembok Besar (1963), Borobudur (1965), Urung (1970), Pandanwangi (1949), dan Swasana Desa (1939).
Gesang “Maestro keroncong Indonesia” menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta, Jawa Tengah, hari Kamis 20 Mei 2010, pada umur 92 tahun.


 



(Sumber : Tembang.com, kapanlagi.com dan Merdeka.com)

Jumat, 07 November 2014

Menceritakan Kembali Makna Lagu "Bengawan Solo"

Narasi Lagu "Bengawan Solo" 
Karya Maestro Keroncong Indonesia  (Alm.Gesang)

Keindahan Sungai Bengawan Solo
Bengawan Solo, riwayatmu ini
Kata riwayat atau sejarah, seakan menyiratkan kita bahwa lagu ini akan punya riwayat yang panjang, sampai pergantian abad masih dibicarakan.

Sedari dulu jadi perhatian insani
Ternyata benar, dari dulu sampai sekarang Bengawan Solo menjadi perbincangan banyak insan, banyak orang, dari jaman keemasan di mana keluarga kerajaan bertamasya di sungai ini, pembuatan waduk Gajah Mungkur, sampai soal banjirnya yang menyapu berbagai kota akhir-akhir ini.

Musim kemarau, tak seberapa airmu. Di musim hujan air meluap sampai jauh.
Di tahun 40-an saja, kalau hujan sungai ini meluap sampai jauh, mungkin beberapa meter dari bibir sungai. Itu saat masih banyak hutan dan pohon disekitarnya. Seharusnya ini jadi pelajaran bahwa kita tidak boleh semena-mena membabat hutan dan tanaman di hulu dan sekitar sungai ini, atau air akan meluap lebih jauh lagi, bahkan sampai beberapa kilometer dan merendam wilayah yang dilaluinya. Dengan kata lain pencipta lagu ini sudah mengingatkan lho, sekian puluh tahun yang lalu, akan pentingnya menjaga ekosistem di sekitar sungai besar ini.

Mata airmu dari Solo, dikurung gunung seribu.
Kalau ditulis Mata airmu dari Solo, dari Pegunungan Seribu itu sudah benar, memang hulu sungai ini ada di daerah Pegunungan Seribu. Namun, pemilihan kata dikurung gunung seribu menjadikannya nyeni dan secara tidak sadar kita membayangkan ada seribu gunung mengitari mata air Bengawan Solo. Apa nggak hebat?

Air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut
Air Bengawan Solo mengalir dari kota Solo sampai Surabaya, memang jauh. Ini biasa saja. Tetapi kalau kita berfikir mungkin belum semua orang Solo pernah ke Surabaya, apalagi tahun 40-an, maka orang akan menduga-duga seberapa panjang sungai ini.

Itu perahu, riwayatnya dulu
Konon dahulu di Bengawan Solo banyak perahu hilir mudik, bahkan pihak keraton Surakarta mempunyai perahu khusus untuk melancong di Bengawan Solo.

Kaum pedagang slalu, naik itu perahu
Kaum pedagang mungkin sekarang sudah jarang atau tidak ada lagi yang menggunakan Bengawan Solo sebagai sarana transportasi. Bengawan Solo sudah tidak seramah dahulu.


Sumber : http://www.tjroeng.com/?p=68

Sabtu, 04 Oktober 2014

Pramuka Penegak Sri Bathara Kresna dan Dewi Sri...Gudep SMK N 1 P urworejo..

 



Pramuka Penegak Ambalan Sri Bathara Kresna dan Dewi Sri "SMK Negeri 1 Purworejo"

          Kegiatan pramuka di SMK Negeri 1 Purworejo merupakan salah satu ekskul sekolah yang wajib dilaksanakan oleh seluruh siswa-siswi kelas X untuk semua jenis kompetensi keahlian yang ada.Perlu anda ketahui bahwa nama ambalan dari ekskul pramuka tersebut yaitu Sri Bathara Kresna (putra) dan Dewi Sri (putri). Nama tersebut diambil dari tokoh pewayangan yang terkenal di tanah Jawa. 

Logo Ambalan Sri Bathara Kresna & Dewi Sri

         Kegiatan ekskul ini bermaksud untuk mengajarkan kepada para siswa bagaimana untuk menjadi anggota pramuka yang berbudi pekerti luhur, menjadi pemimpin (leader) yang mampu di andalkan oleh para bawahan yang berkecipung dalam kegiatan kepramukaan , selain itu juga kegiatan pramuka mengajarkan para siswa untuk disiplin terhadap waktu, berperilaku sesuai dengan adat ambalan serta dasadharma pramuka, meninggikan jiwa kebersamaan (korsa), serta konsistensi.

    
Pelaksanaan kegiatan Ektrakurikuler Pramuka dilaksanakan di luar jam sekolah sekitar pukul 14.00 setiap hari Jum'at di kampus SMK N 1 Purworejo. Pada saat kegiatan pramuka berlangsung biasanya terdapat Dewan Penegak Bantara yang mengampu dan mendampingi seluruh anggota ambalan selama kegiatan berlangsung. Disamping itu juga terdapat pembina pramuka yang tidak kalah penting untuk suksesnya pelaksanaan kegiatan kepramukaan. Persentase tugas dari kegiatan pramuka penegak yaitu 25% untuk Pembina dan 75% untuk Dewan Penegak Bantara.

Didalam Dewan Penegak Bantara terdapat struktur susunan kepengurusan kerja yang sangat penting untuk kelancaran kegiatan . Struktur kepengurusan organisasi Pramuka untuk sekolah menengah atas & kejuruan terdiri dari :
        
                Dewan Ambalan :

       1)    Pradana (Putra & Putri)

       2)    Wakil Pradana (Putra & Putri)
       3)    Pemangku Adat (Putra & Putri)
       4)    Juru Tulis / Sekretaris (Putra & Putri)

       5)    Juru Uang / Bendahara (Putra & Putri)

       6)    Seksi – seksi.

       7)    Wali Ambalan.

       8)    Anggota.    
 Pembina : 
       1)   Mabi
       2)   Mabigus
       3)   Koordinator Pembina
       4)   Sekretaris
       5)   Bendahara
       6)   Anggota   
Selain kegiatan rutin latihan pramuka tersebut, juga terdapat kegiatan-kegiatan lain yang ada dalam program kerja ambalan.Berikut ini contoh kegiatan yang ada dalam program kerja Ambalan Sri Bathara Kresna & Dewi Sri SMK Negeri 1 Purworejo :
1. Pelantikan Alih Golongan
Kamabigus SMK N 1 Purworejo


Upacara Adat




Jelajah siang

Persiapan api unggun
2. Penghijauan Pantai
Menanam pohon bersama

 3. Bersih Pantai
Pembakaran sampah tepi pantai

4. Baden Powell Day
         
                    Pengarahan Kakak Pembina
                         
                            Foto bersama selesai kegiatan
 5. Pelantikan Bantara
         
                                        PBB calon Penegak Bantara


Sarasehan di alam terbuka

 Berikut ini video Pelaksanaan Pembukaan Latihan Pramuka hari Jum'at :



 Pensi Malam Api Unggun
Jelahah Siang Alih Golongan

       Pelaksanaan kegiatan kepramukaan yang saya paparkan tersebut hanya sebagian kecil dari kegiatan-kegiatan yang ada dalam program kerja kegiatan Pramuka Penegak Ambalan Sri Bathara Kresna & Dewi Sri di SMK Negeri 1 Purworejo. Dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan positif laindi lingkup kepramukaan yang mendukung terwujudnya cita-cita Ambalan Sri Bathara Kresna & Dewi Sri, Gugus Depan SMK Negeri 1 Purworejo tercinta.

PRAMUKA.......PRAMUKA.....Praja Muda Karana...!!!!

Salam Pramuka...
Pramuka Smekzaa....Jayaaa>>...!!!! (amiin)